Wandhan Naira

BANDA NAIRA

Banda Naira, puing sejarah di Laut Banda

Hambarnya makanan, telah memaksa pribumi Benua Biru menulis sejarah mereka di atas bumi Banda Naira…..

Selama kurang lebih dua ribu tahun lalu keharuman buah pala ( myristica fragrant ) telah menembus banyak benua. Setelah melintas lautan dan melewati berbagai jalur perdagangan kuno buah pala berhasil mendapat tempat sebagai rempah primadona.. Keharuman dan berbagai khasiat yang terkandung dalam buah pala telah menjadi daya tarik tersendiri berbagai bangsa di dunia. Mereka mencari jalan untuk menemukan sumber rempah – rempah yang konon, itu terletak di belahan timur bumi.
Pala dan fuli ( bunga pala )  memiliki sejarah yang panjang dan fantastis. Daya tarik dari rempah tersebut bukan saja karena dibutuhkan manusia dalam berbagai kepentingan, tetapi mampu membawa perubahan besar dalam sejarah dunia.
Demi rempah – rempah  kekayaan datang dan pergi, kekuasaan dibangun untuk kemudian dihancurkan. Selama ribuan tahun, selera akan rempah – rempah terbentang disekujur planet bumi dalam proses mengubah dunia.

Sebelum orang – orang Eropa mengenal rempah – rempah dari dunia timur, orang – orang India, Arab, dan China sudah memanfaatkan rempah – rempah terutama pala dan cengkih untuk berbagai keperluan.

Mengutip sebuah manuskrip Yunani :
Theophrastus (372-288 BC), menyebutnya comacum untuk  menggambarkan pala (kacang-kacangan yang berbau harum), dan mengatakan tidak datang dari India, tetapi  dari Arabia. Jenis lain dari Myristica, malabarica, di Malabar utara, kadang untuk mencampurkan dengan pala (Myristica fragrans) asli dari Banda.
Pliny (ca AD 50) percaya pala datang dari Syiria, yang mungkin telah menjadi tempat pala diproses menjadi minyak.

Bahkan berbagai kisah, cerita sampai legenda yang di tuliskan oleh para penjelajah samudera selalu di kaitkan dengan kepulauan Banda sebagai pulau terapung yang kaya
Dan pulau itu , mulai tersohor seharum buah pala………………

Banda Naira, di ambil dari kata BANDA merujuk pada nama awal WANDAN. Pada awal abad pertama masehi, China telah mengenal Banda dengan sebutan Wen-Tan. Umumnya orang lokal menyebutnya dengan nama ANDANSARI. Kata Andansari sendiri merupakan plesetan dari kata WANDAN SARI merujuk kepada seorang wanita cantik yang menjadi dayang dari Prabu Brawijaya di kerajaan Majapahit.

Bondan Kejawan adalah putra ke 14 Prabu Brawijaya, raja Kerajaan Majapahit terakhir dengan seorang Putri Wandan Sari, seorang dayang yang biasa melayani permaisuri Prabu Brawijaya, Dewi Dwarawati (Putri Campa).

Ketika putri Wandan Sari ini melahirkan anak dari benih Prabu Brawijaya, bayi tersebut diberikan kepada Ki Buyut Masahar dengan pesan agar bayi tersebut dilenyapkan. Prabu Brawijaya berpesan demikian, karena menurut ramalan para ahli nujum anak ini kelak akan membawa keburukan bagi Kerajaan Majapahit. Akan tetapi anak ini justru dipelihara oleh Ki Buyut Masahar.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *