623 M ISLAM MASUK DI TANAH WANDAN

(Tulisan I Dari Diskusi Sejarah Masuknya Islam di Tanah Wandan)

10 Tahun sebelum Rasulullah Muhammad SAW wafat, atau antara Tahun 623-622  Masehi seorang Putri Wandan diIslamkan. Bahkan dipercaya yang mengIslamkan Putri itu,  adalah sahabat Nabi, Abubakar Ash-Shiddiq.

Oleh : Tim Penyusun

Sejarah penyebaran agama Islam di Indonesia, disebutkan tidak terlepas dari hubungan dagang antara masyarakat Indonesia dengan para pedagang asal Arab. Begitu pula di Maluku. Beberapa daerah di provinsi para raja-raja  ini, Islam diprediksi dibawah langsung para pedagang.  Sebut misalnya,  Jazirah Leihitu dan  Kepulauan Seram. Tak sedikit juga yang mengklaim Islam pertama kali di Maluku berasal dari daerah mereka.

Berbeda dengan masyarakat Wandan (Banda Neira, saat ini). Mereka meyakini, Islam masuk di Maluku, berawal dari Kepulauan Banda. Konon, di Tahun 623 M, seorang ulama asal Arab datang ke tanah Wandan menyiarkan agama Islam (berdakwah). Ulama itu diyakini hingga kini sebagai sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq.  Demikian juga ulama Salman Al-Farizi pada tahun 625 berdakwah di Perlak Aceh Timur, yang kemudian kembali ke Madinah pada tahun 626.

Tuan Abubakar –sebutan masyarakat Wandan – saat berdakwah di kepulauan Wandan, mengIslamkan pertama kali seorang Putri Wandan yang beragama Hindu bernama Arwan atau Mboire Funo Nduano artinya pemilik kampong Wandan (Tuan Tanah). Saat diIslamkan, putri ini kemudian diberi nama Minkum.

Dra Hj Ien Z Rery, dalam diskusi terbatas Sejarah Masuknya Islam di Tanah Wandan di Lee Green Hotel, 24 Agustus 2019 mengungkapkan, Oyang Arwan (Oyang/sebutan bagi leluhur)  di Islamkan di bibir Pantai Nusuraja Kepulauan Banda. Saat ini, tempat tersebut telah dibangun prasasti oleh Almarhum Haji Hamzah  Mimza Rery  bersama anak dan cucu-cucunya, Ismail Uar, Mbali Rery dan H Achmad Kubangun.

“Dan batu tempat Oyang Minkum diIslamkan itu, berada tepat di bibir pantai dan hingga kini masih ada,” ungkapnya.

Mboire Funo Nduan merupakan putri yang tinggal di Batu Kalalaka, saudara laki-lakinya bernama Capati Lewatala yang dalam Bahasa Wandan disebut Fokorndan Nduan (putra Tanah Wandan). Setelah di Islamkan, Tuanku Abubakar langsung mempersunting Oyang Minkum. Menurut catatan, berkat karamah yang diberikan Allah SWT kepada Abubakar Ash-Shiddiq, sehingga dalam waktu yang bersamaan Dia kemudian mengIslamkan secara massal warga Wandan di Pantai Nusuraja, termasuk beberapa keponakan Oyang Minkum yang kemudian menjadi ulama dan raja di Negeri Wandan.

Diceritakan mantan Penjabat Bupati Maluku Tenggara ini, keempat raja atau ulama yang biasa disebut Rat At (Empat Raja) merupakan cucu dari saudara laki-laki Oyang Minkum yang bernama Oyang Tol Mboi Fati (Raja Laut). Tol Mboifati memiliki lima orang anak, dan salah seorang adalah perempuan bernama Putri Liarut. Putri Liarut memiliki empat orang putra dari hasil perkawinannya dengan Oyang Tandengar atau Wal Molo yang berasal dari  Wai Ndener.

Keempat anaknya itulah yang kemudian menjadi ulama besar yang dikenal sebagai Rat At (Raja Empat) di Kepulauan Banda. Mereka masing-masing, Ratu Iyaka Salamun, Laingwar, Mboisili Lawataka, dan Laklei Rosinggin. Keempat raja ini masing-masing berkuasa; Ratu Iyaka Salamun berkuasa di wilayah Salamun dan sekitarnya, Ratu Laingwaer berkuasa di wilayah Waer Ndener, Ratu Mboisili Lawataka di Wilayah Neira dan Ratu Laklei Rosonggin di Wilayah Rosonggin dan sekitarnya.

Keempat raja ini tidak bisa dilepaspisahkan dengan seorang tokoh lainnya yang bernama Fira Ra Wair Ndener. Mereka inilah yang kemudian  memiliki peran besar untuk penyebaran Islam di kepulauan Banda dan beberapa daerah lain di Provinsi Maluku, pasca kembalinya Tuan Abubakar ke Mekkah.

Sementara perkawinan Syaidina Abubakar Ash-Shiddiq dengan Oyang Minkum, melahirkan dua putra dan seorang putri yang kemudian dikenal dengan sebutan Lebe Tel (Tiga Imam). Ketiganya bernama Oyang Jummat, Oyang Mboidatu Pase, dan seorang putri  bernama Oyang Mboisiti. “Ini versi orangtua-tua kami,” tambah Hj Ien.

Dari cerita rakyat yang diperoleh, ketiga anak atau juriat dari Tuan Abubakar ini,  hilang secara misterius. Oyang Jummat dan Oyang Mboidatu Pase dalam cerita rakyat, menghilang saat melakukan khotbah salat Jumat. Sementara saudara perempuannya juga menghilang saat memimpin salat bersama murid-murid perempuannya. Hanya saja, banyak yang menyebutkan, kata “menghilang”  merupakan bahasa khiasan yang disampaikan para Leluhur, untuk menyembunyikan juriat Syaidina Abubakar. Tujuannya, agar kelak keturunan ini tidak ‘menyombongkan diri” sebagai keturunan langsung Sahabat Nabi. Atau membeda-bedakan diri mereka dengan masyarakat Wandan lainnya.

Cerita Abubakar Ash-Shiddiq mengIslamkan warga kepulauan Wandan ini juga tertuang dalam onotan atau nyanyian-nyanyian para leluhur berisi syiar-syiar Islam. Diantaranya;

Allahu Tabea Sangra Tuan RAT AT eee

Allahu o Tabea

Tuan ABUBAKAR njakana farau mbim kilito sa na jadiko na kapal jeda ino fa ndonama illa polo-polo Wandan raron illa

Sekalian mancia malaun Wandan sineeee

Faliling Tuan ABUBAKAR ndomu fa ngokatiko sarupan ngene fulan purnama tena bintang matahari.

Famuleri baralimo waktu limosin na mboroti raja nduan firman Allahu ta Allah

Na mbofilako naro RATU AT eee niro hati kafir inooo

Ndonok narotaapi eee fosombolo ndilik kaka wali RATU AT eee

TUAN ABUBAKAR ndonok na war salawat futu at sinooo

Dari onotan ini dapat diartikan secara sederhana bahwa Abubakar Ash-Shiddiq datang ke Tanah Wandan menggunakan Kapal Kulit Kambing lalu berlabuh  di Pelabuhan Tanah Wandan.  Masyarakat melihat Tuan Abubakar dengan cahaya seperti bulan purnama dan bintang yang ada di langit. Tuan Abubakar menggunakan  jubah yang besar. Kedatangan Tuan Abubakar di Banda  untuk mengIslamkan masyarakat dan mengajarkan salat lima waktu lima kepada empat raja dan masyarakat Wandan.

ONOTAN. Ibu-ibu dari Negeri Wandan menyanyikan Onotan, saat diskusi berlangsung.

Di masa Lebe Tel Rat At inilah agama Islam yang disyirakan Tuan Abubakar berkembang dengan pesat. Semua masyarakat Wandan berhasil memeluk agama Islam dan memegang teguh apa yang diajarkan Tuan Abubakar. Setelah Islam besar di Tanah Wandan, Abubakar Ash-Shiddiq kemudian kembali ke Mekkah, dan menitipkan satu jubah besar miliknya yang hingga kini tersimpan di rumah salah satu marga di Desa Banda Ely.

Masyarakat Wandan (Banda Ely, saat ini), sangat meyakini Islam yang berkembang di Tanah Wandan dibawa langsung oleh sahabat Nabi Abubakar  As-Shiddiq. Bukan dibawa para pedagang Arab, sebagaimana beberapa tulisan sejarawan. Usman Thalib dalam bukunya  Islam di Tanah Banda terbitan BPNB Ambon, 2015  menulis, Banda Neira mempersentasikan dirinya sebagai produsen tunggal buah pala, buah yang sangat mahal dan dibutuhkan di berbagai belahan dunia. Konsekuensinya adalah wilayah kepulauan ini menjadi sasaran para pedagang muslim dan para mubaliq yang sambil berdagang juga menyiarkan Islam. Itulah sebabnya para pakar berkesimpulan, bahwa pada kurun pertama tahun hijriah atau abad ke-7 dan ke-8 Islam telah sampai ke Maluku. Namun kemungkinan besar pada masa awal itu Islam hanya dianut oleh para pedagang yang singgah di perairan dan bandar-bandar penting di Maluku, seperti Banda dan Ternate.

“Dari tuturan orangtua-tua kami, Islam masuk di Tanah Wandan dibawah langsung Tuan Abubakar sekira tahun 623 Masehi. Orang tua-tua kami biasanya bilang, Islam masuk itu 10 tahun sebelum Rasulullah meninggal dunia (tahun 632 M),” ungkap Sam Borut, Kepala Bappenda Kabupaten Bursel, dalam diskusi tersebut.

Panelis Saat Diskusi

Cerita rakyat itu ada benarnya. DR Haikal Hasan, dalam sebuah kajiannya,  menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia atas perintah Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat-sahabatnya untuk menyebar Islam ke seluruh penjuru dunia.  Menurut dia, Islam masuk ke Indonesia pada  kekhalifahan Generasi Terbaik  (Khulafaur Rasyidin) dan bukan melalui jalur perdagangan. Contohnya; Ali bin Abi Thalib, pernah datang dan berdakwah di Garut, Cirebon, Jawa Barat (Tanah Sunda), Indonesia, tahun 625 M.  Ja’far bin Abi Thalib, berdakwah di Jepara, Kerajaan Kalingga, Jawa Tengah (Jawa Dwipa), Indonesia,sekitar tahun 626 M. Ubay bin Ka’ab, berdakwah di Sumatera Barat, Indonesia, kemudian kembali ke Madinah. Sekitar tahun 626 M. Abdullah bin Mas’ud, berdakwah di Aceh Darussalam dan kembali lagi ke Madinah sekitar tahun 626 M. Abdurrahman bin Mu’adz bin Jabal, dan putera-puteranya Mahmud dan Isma’il, berdakwah dan wafat dimakamkan di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara sekitar tahun 625 M. Akasyah bin Muhsin Al-Usdi, berdakwah di Palembang, Sumatera Selatan dan sebelum Rasulullah Wafat, ia kembali ke Madinah sekitar tahun 623 M. Salman Al-Farisi, berdakwah Ke Perlak, Aceh Timur dan Kembali Ke Madinah.

Untuk itu, masyarakat Banda Ely,  meyakini hingga kini, Islam yang berkembang di Tanah Wandan (Banda Neira) merupakan Islam yang didakwahkan langsung Sahabat Nabi, Abubakar Ash-shiddiq. (*bersambung)

FOTO BERSAMA. Beberapa tokoh Wandan foto bersama saat diskusi.

One Reply to “623 M ISLAM MASUK DI TANAH WANDAN”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *